Maaf baru nongol lagi, belakangan banyak kerjaan yang agaknya gak beres-beres
Langsung aja ( sori agak buru-buru nich), sekarang saya ajak anda untuk merenung sejenak:
Apakah anda mengamati langit hari ini ?
Nah dari pertanyaan sederhana itu, ternyata sebagian besar yang saya tanya, menggelengkan kepala. Rupanya kita sudah terlalu disibukan dengan hal-hal yang menarik di bawah (seperti tayangan televisi, komputer, mobil dll). sehingga jarang menatap, mengamati apalagi mempelajari benda-benda langit.
Padahal, gara-gara mengamati benda langit, ilmu matematika lebih dikenal dan berkembang.
Bisa tidak anda menunjukan suatu cara bahwa bentuk bumi bulat telur (tidak mendatar) ?
sebagaian besar yang saya tanya, juga menggelengkan kepala. “emang kata buku juga begitu “
KISAH SAYA
Sampai sekarang, saya masih merasa kagum pada kecerdasan ilmuwan untuk menjawab hal-hal yang menurut saya sangat sulit itu. karena menurut pengamatan kelima indera saya pun, bumi itu berupa hamparan, dan langit seperti canopy. Matahari berputar mengelilingi kita, karena terlihat seperti itu, dan tak pernah sedikitpun kita merasakan putaran bumi.
Sehingga saya anggap wajar, ketika seluruh ilmuwan dulu dan juga rohaniawan menganggap bahwa pusat semesta/galaksi adalah bumi, karena indera kita memang menginformasikannya demikian.
OTAK YANG TIDAK TERKECOH
Untungnya ada orang yang menggunakan logikanya sebagai indera ke-enam. sehingga waspada dan tidak percaya begitu saja pada apa yang ditangkap inderanya melalui pengamatan.
Seringkali, untuk membuktikan sebuah teori, para ilmuwan harus berjuang ekstra keras seperti Ferdinand Magellan yang mengarungi samudra hanya untuk membuktikan bahwa bumi itu bulat. (beliau berangkat dari satu titik, berlayar terus, kemudian tanpa berbalik arah, ternyata sampai pada titik awal)
Copernicus, Galileo Galilei dll harus rela mengorbankan hidupnya, hanya karena dia menggunakan otak sebagai acuan atau sebagai filter dari apa yang ditangkap oleh kelima indera.
MENGAITKAN INFORMASI
Masih ingat kisah Thales (postingan saya sebelumnya) ?,itulah salah satu contoh kejeniusan yaitu menemukan keterkaitan antara informasi.
Sekarang saya akan tunjukan contoh lain manfaat mengaitkan informasi melalui logika, dalam upaya mengetahui bentuk bumi
Uji coba sederhana :
- Arahkan senter kedinding, pasti ada bayangan berbentuk bulat
- Taruh bola di atas meja, lalu sorot dengan senter. Geser-geser posisi sorotan dari luar kiri, terus ke arah kanan. Maka anda akan mendapatkan bayangan pada dinding berupa : cahaya senter bulat penuh, bentuk sabit dengan berbagai ukuran yang terbuka ke kanan, lalu berubah lagi menjadi sabit terbuka kekiri, lalu kembali cahaya senter berbentuk bulat utuh (jika anda sudah sampai menyorot pada sisi kanan luar bola).
- Ganti bola dengan kotak, lalu sorot seperti langkah sebelumnya. anda tidak akan pernah mendapatkan bentuk sabit
- Ganti bola dengan pelat tebal, lalu sorot, anda juga tidak akan menemukan bentuk sabit
Sekarang, kita anggap matahari sebagai senter dan bulan sebagai dinding.
Ketika bumi berada di tengah (antara matahari dan bulan), sebagian cahaya matahari terhalang oleh bumi, dan bayangannya mengakibatkan bentuk sabit pada bulan (seperti yang sering kita lihat di malam hari), maka menurut percobaan sederhana kita di atas, bentuk bumi yang paling mungkin adalah ” bulat “, bukan kotak atau hamparan seperti pelat.
ketika terjadi bulan purnama, posisi bumi tidak menghalangi cahaya matahari, sehingga bisa kita simpulkan bahwa orbit bulan sedikit melenceng (miring) ketika mengelilingi bumi.
RENUNGAN
Kemampuan mengaitkan informasi, rupanya lebih sederhana dan murah, ketimbang harus mengelilingi samudra seperti yang pernah dilakukan Ferdinand Magellan, yang memakan waktu dan biaya tidak sedikit. bahkan bisa merenggut nyawa.
Galih P Saputra
Jadi gitu ya cara ngebuktiinnya. soalnya di internet banyak banget debat bumi datar. saya heran sendiri kok hari gini ???.
googling aja: bentuk bumi datar atau bukti bumi bulat
pake bawa-bawa agama lagi cuape dech…
Comment by x-trims — 26 February 2009 @ 13:07
to : x-trims
Saya kira setiap orang punya hak berpendapat, wajar aja.
“ilmu tanpa agama cacat”. kita tidak bisa sepenuhnya mengandalkan akal dalam beberapa hal. harus seimbang.
Saya tidak mau terlibat dengan perdebatan berlabel agama dan sains.
karena : Saya tidak ahli di kedua bidang itu, nantinya pendapat saya cetek atau malah ngawur.
tulisan ini tidak ditujukan untuk memihak, saya serahkan para pembaca untuk setuju atau tidak.
tapi terus terang, ketika googling, emang sempet kaget banget.
Comment by matematikadasar — 26 February 2009 @ 13:23
Saya jadi kasmaran ame math setelah baca penjelasan di atas.
Comment by Danny — 4 September 2009 @ 02:03